Fintech Ajak UMKM yang Sulit Akses Perbankan untuk Bangkit Bersama

Fintech Ajak UMKM yang Sulit Akses Perbankan untuk Bangkit Bersama

Fintech Ajak UMKM yang Sulit Akses Perbankan untuk Bangkit Bersama

Di lansir dari thedonnellygroup.com, berkembangnya sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM), membuat perusahaan fintech membuka peluang untuk pelaku bisnis UMKM memperoleh pendanaan dari peer-to-peer (P2P) lending. Fintech bisa menjadi solusi bagi para UMKM yang masih kesulitan dalam mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional.

Co-Founder & COO Modalku, Iwan Kurniawan, mengatakan sebagian besar UMKM di Indonesia belum berbentuk badan usaha formal.

“Sebanyak 82 persen responden belum membentuk bisnisnya menjadi PT atau CV. Hal inilah yang seringkali menjadi hambatan ketika mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional,” ujarnya dalam konferensi pers virtual Modalku.

Di kutip dari adidas-superstar.us.com/, hal ini di ketahui berdasarkan penelitian yang di lakukan Modalku terhadap 350 responden yang merupakan pelaku UMKM peminjam Modalku. Melalui survei online dan berlanjut dengan diskusi telepon.

Para responden penelitian ini berasal dari berbagai sektor UMKM, seperti perdagangan ritel (29 persen), sektor tekstil, perlengkapan, dan produk kulit (17 persen), dan produk makanan, minuman, dan tembakau (17 persen), dan lainnya.

Jika di lihat dari periode waktu pendirian usaha, 83 persen dari usaha responden sudah berusia hingga 7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sektor UMKM memiliki potensi berkelanjutan untuk jangka waktu yang panjang.

Apa saja hambatan para pelaku UMKM dan fakta lainnya berdasarkan penelitian tersebut? Berikut laporannya.

1. Hanya 27 persen UMKM yang pernah mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional

Dalam hasil penelitian Modalku di temukan bahwa, hanya 27 persen pelaku UMKM yang pernah mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional. Hal ini tidak terlepas dari berbagai persyaratan untuk mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan konvensional yang seringkali di nilai memberatkan bagi UMKM.

Sejumlah syarat dan kriteria untuk mendapatkan pinjaman di antararanya, bisnis yang di jalankan harus memenuhi beberapa hal, contohnya perizinan, legalitas, dan laporan keuangan yang memadai.

Dari total responden, hampir 50 persen usaha mikro memandang bahwa perizinan usaha menjadi penghambat. Sementara lebih dari 50 persen usaha mikro memandang laporan keuangan masih membatasi.

2. Sebanyak 41,7 persen memilih meminjam di fintech karena syarat pengajuan tanpa agunan

Oleh karena itu, sejumlah UMKM memilih untuk mendapatkan bantuan pendanaan dengan pinjaman dari fintech, salah satunya Modalku. Dari penelitian tersebut di temukan, alasan responden dalam mengajukan pinjaman ke Modalku juga cukup beragam.

“Melalui terobosan dan pendekatan berbasis teknologi, serta penilaian kelayakan kredit yang sesuai dengan karakteristik UMKM. Sektor fintech terutama P2P lending memiliki peran penting dalam mendukung pelaku UMKM. Terutama yang belum tersentuh akses pendanaan lembaga keuangan konvensional,” ujar Iwan.

Comments are closed.