BRI Dukung Pengembangan Ekosistem Padi

BRI Dukung Pengembangan Ekosistem Padi

BRI Dukung Pengembangan Ekosistem Padi – Dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan memperingati Hari UMKM Nasional, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menggelar seminar secara daring bertajuk “Memperkuat Klaster Bisnis Padi Indonesia”. Kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan nyata bagi petani dan pelaku UMKM, serta pengembangan Klaster UMKM unggulan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Peringati Hari UMKM Nasional, Ini Ajakan Dirut BRI ke Pelaku Usaha |  BALIPOST.com

Seminar itu pun bertujuan membedah permasalahan dan tantangan seputar bisnis padi mengingat padi sebagai makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia merupakan komoditas penting bagi ketahanan pangan nasional. Mengangkat tema ketahanan pangan, seminar menyedot peserta dari berbagai kalangan diantaranya petani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), anggota Perpadi, anggota dan pengurus Koperasi, Bumdes, UMKM binaan BRI, pekerja BRI, mahasiswa dan pelajar, serta masyarakat umum.

1. Dua permasalahan utama dalam bisnis padi

Sebagai akademisi, Jamhari mengungkapkan kajiannya bahwa terdapat dua permasalahan utama dalam bisnis padi. Permasalahan pertama, yaitu increasing demand dan decreasing capacity telah terjadi saat ini, dan diperkirakan gap-nya akan semakin lebar di masa depan.

“Increasing demand disebabkan pertumbuhan penduduk. Namun, hal ini tidak diiringi kenaikan supply, yang disebabkan berkurangnya lahan persawahan. Berkurangnya profesi petani, dan adanya pergeseran ekonomi dari agraris ke nonagraris,” jelasnya.

2. Ini yang menyebabkan produksi padi kurang efisien

Lebih lanjut dirinya menjelaskan adanya permasalahan kedua yaitu inefisiensi proses produksi dan pengolahan padi. Saat ini kebutuhan nasional padi merata di seluruh Indonesia. Tetapi produksi padi kebanyakan dilakukan di Pulau Jawa oleh petani perorangan, dan dengan luasan lahan yang terbatas (rata-rata kurang dari 0,5 ha per petani). Hal tersebut menyebabkan produksi padi kurang efisien.

“Untuk mengatasi hal ini, terdapat beberapa model tata kelola bisnis padi yang dapat diimplementasikan. Yaitu Cooperative Farming (yang saat ini banyak dijalankan di Indonesia. Di mana lahan tetap dikuasai petani dan dilakukan penguatan manajemen kelompok tani). Contract Farming (kerja sama antara petani dengan perusahaan mitra, yaitu BUMN, BUMD, BUMDES, Swasta). Serta Corporate Farming (penguasaan dan pengelolaan lahan oleh lembaga berbadan hukum, petani sebagai pemegang saham dan tenaga kerja),” papar Jamhari.

3. Permasalahan di bisnis padi

Sementara itu, Nasikin selaku Direksi PT Biogene Plantation yang memproduksi benih padi. Memberikan ulasan tentang pendampingan dan penguatan kelompok petani padi untuk meningkatkan produktivitas. Petani juga perlu bersinergi dengan Rice Mill Unit (RMU)/penggilingan padi. Mengkutip dari http://94.237.65.201/ Untuk mencapai kerja sama saling menguntungkan antara kelompok tani dan RMU. Dibutuhkan skala ekonomi gabungan kelompok tani dengan luas lahan minimal 300 ha.

4. Padi memiliki korelasi langsung kepada inflasi

Di sisi lain, Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso mewakili pengusaha di bisnis padi. Menegaskan bahwa padi memiliki korelasi langsung kepada inflasi. Sehingga Pemerintah memiliki kepentingan untuk menjaga kestabilan pasokan padi dan harga beras. Permasalahan saat ini adalah masa panen puncak terjadi pada musim hujan. Sedangkan kapasitas mesin pengering di RMU masih terbatas (94 persen atau 171.495 dari 182.199 RMU berupa skala kecil yang tidak memiliki sistem pengeringan yang baik).

5. BRI selalu berkomitmen pada sektor UMKM, termasuk pertanian dan rantai pasoknya

Menanggapi hal tersebut, menurut http://thedonnellygroup.com/ Amam Sukriyanto menyampaikan bahwa BRI selalu berkomitmen pada sektor UMKM, termasuk pertanian dan rantai pasoknya. Hingga Triwulan II 2021, BRI menyalurkan kredit kepada sektor pertanian sebesar Rp117,54 triliun atau sebesar 28,03 persen dari penyaluran bank secara nasional untuk sektor pertanian. Jumlah tersebut tumbuh 12,8 persen secara year in year.

Comments are closed.