Gegara PSBB Warga Jakarta Beralih ke Mal Bekasi

Gegara PSBB Warga Jakarta Beralih ke Mal Bekasi

Gegara PSBB Warga Jakarta Beralih ke Mal Bekasi

Gegara PSBB Warga Jakarta Beralih ke Mal Bekasi, – Mal atau pusat perbelanjaan di sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang bahkan Cibubur mendapat kelimpahan pengunjung pengunjung mal dari Jakarta.

Fenomena ini terjadi akibat resto di pusat perbelanjaan di Jakarta tidak boleh menerima dine-in atau makan di tempat, akibatnya banyak masyarakat Jakarta yang pergi ke pinggiran ibu kota.

“Kemarin hari Minggu itu Cibubur, Tangerang, Bekasi ramai sekali mal-malnya. Jadi memang ada limpahan dari Jakarta. Pada saat weekend saja ramainya,” kata Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah dalam diskusi Zoom, Senin.

1. Pastikan protokol kesehatan tetap terjaga

Melansir dari laman http://motorvista.com, Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah memastikan ramainya pusat perbelanjaan di luar Jakarta tetap diimbangi dengan protokol kesehatan.

“Intinya yang sudah melakukan protokol kesehatan harus diberikan privilege atau kesempatan untuk tetap bisa berusaha. Tetapi yang belum harus bisa diperbaiki,” kata Budi.

Ia berharap dengan adanya lonjakan tersebut tidak membuat mal ditutup. “Karena kita sudah investasi, jangan sampai sudah betul (protokol kesehatan), sudah ketat masih harus ditutup,” ucapnya.

2. Ritel rugi hingga Rp200 triliun

Budi mengatakan pengusaha ritel merugi hingga Rp200 triliun akibat pandemik COVID-19 dan kebijakan PSBB yang dilakukan pemerintah.

“Kalau angka, kami itu setahun sekitar Rp400 triliun. Kalau pun hanya 50 persen (yang operasional) ya omzetnya turun Rp200 triliun, ya kerugiannya di situ. Tapi kan biayanya gak bisa utuh,” kata Budi.

3. Faktor kunjungan yang menurun dan kekhawatiran masyarakat

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja melaporkan penurunan omzet terjadi karena kunjungan yang turun drastis. Masyarakat masih khawatir dengan virus corona. Kedua adalah faktor merosotnya daya beli masyarakat.

“Khusus DKI, pada saat ini ditambah dua faktor lagi yakni pembatasan di mana-mana. Ditambah lagi restoran dan kafe tidak boleh melayani makan di tempat,” kata Alphonzus.

Seperti diketahui, setelah pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mengetatkan PSBB, maka dine-in sudah tidak boleh dilakukan di pusat perbelanjaan, restoran maupun kafe yang ada di Jakarta. Namun, kebijakan itu tidak diikuti oleh daerah penyangga seperti Bogor dan Depok, yang tetap mengizinkan dine-in dengan protokol kesehatan.

Comments are closed.